Opini
Tranding

Pejuang Lingkungan di Kabupaten Pandeglang

Surungsungut, Kampungnya Emak-emak Pejuang Lingkungan di Kabupaten Pandeglang

Kwari – Bagi warga di luar Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, mungkin akan terasa asing dengan sebuah kampung bernama Kampung Surungsungut yang secara administratif masuk kedalam wilayah Desa Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang.

Kampung Surungsungut Kampungnya Emak-emak Pejuang

Nama Surungsungut, di ambil dari bahasa Sunda yang berarti Mulut yang memanjang kearah depan, disebut-sebut menggambarkan seseorang yang bisa menjelma sebagai Buaya atau siluman buaya.

Karena secara geografis, lokasi Kampung Surungsungut, tepat berdekatan dengan salah satu sungai besar di Kabupaten Pandeglang, yakni Sungai Cibungur, yang dahulunya di mungkinkan sebagai habitat hewan purba tersebut.

Dalam edisi perdana, Mimin, tidak akan membahas sejarah kampung surungsungut yang di sebut-sebut mempunyai cerita horor tentang siluman buayanya.

Kali ini, Mimin akan membahas kegiatan para emak-emak yang menurut Mimin sangat menginspirasi, karena apa yang di lakukannya bisa berdampak pada pemulihan ekosistem pesisir pantai di Kabupaten Pandeglang.

Saat yang lainnya hanya bicara mengenai dampak perubahan iklim terhadap lingkungan, Emak-emak atau para ibu-ibu rumah tangga di Kampung ini, sudah berkontribusi atau mengambil bagian dalam pemulihan ekosistem pesisir pantai, dengan cara melakukan budidaya tanaman pantai.

Emak-emak yang tergabung dalam kelompok Mrs Surungsungut ini, sudah hampir 6 bulan aktif melakukan pembibitan tanaman Pantai, dengan bimbingan dari sebuah NGO Lokal yang aktif bergerak di Lingkungan, yakni Yayasan Alabama Indonesia Lestari.

Inah (35), Warga Kampung Surungsungut, Desa Cibungur Kecamatan Sukaresmi, mengatakan, bahwa aktivitas pembibitan yang di lakukannya ini merupakan aktivitas sampingan dari kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Menurutnya, dengan latarbelakang pekerjaan suaminya yang seorang buruh tani, aktivitas pembibitan tanaman pantai ini bukan sebagai hal yang baru dan di yakini bisa di lakukan dengan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu.

“Ora, ngurusi bibit iku lamun pegawean umah beres, trus ora perlu lunga adoh atau (tidak mengganggu, mengurus bibit ini dilakukan setelah pekerjaan rumah beres, lagian saya tidak harus meninggalkan rumah karena lokasinya di pekarangan-red),”ungkap inah dengan bahasa Jawa.

Awalnya para ibu-ibu ini tidak mengetahui, bahwa apa yang di lakukannya ini bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, dengan manfaat pohon yang di rawatnya ternyata bisa menjadi benteng alami dari laju abrasi.

“Awale mah ora ngerti, pas ana pembinaan sing kang Pongo (Staf Yayasan Alabama Indonesia Lestari-red), dadi paham. Sing kono kita dadi tambah semangat atau awalnya tidak mengerti, tapi setelah ada pembinaan dari Yayasan Alabama tentang manfaat akan aktivitas yang dijalaninya, membuat saya lebih bersemangat melakukan pembibitan tanaman Pantai,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Mrs Surungsungut, Meli mengatakan, setidaknya ada 22 emak-emak yang masuk dalam kelompok pembibitan dengan total tanaman yang sedang dirawat sebanyak 85000 bibit dengan tiga jenis tanaman di antaranya, tanaman nyamplung atau calophyllum inophyllum, Katapang atau terminalia catappa dan Malapari pongamia pinatta.

“Total Anggota kelompok itu ada 23 orang, semuanya ibu-ibu. Nah perorangannya itu ada yang punya 2000 bibit bahkan ada yang nyampe 4000 bibit tergantung luas pekarangan rumahnya. Kalau di total itu ada 80.000 bibit,” ungkapnya.

Dari aktivitas pembibitan, para emak-emak ini juga akan mendapatkan benefit atau keuntungan ekonomi yang nantinya bibit yang sudah siap tanam akan di tampung oleh Yayasan Alabama Indonesia, untuk kemudian di tanam di lokasi-lokasi yang sudah di tentukan.

“Kalau keuntungan secara ekonomi dari pembibitan ini lumayan aja pak, untuk nambah penghasilan dan kalau untuk saya bisa nambahin modal warung dan kami juga dari hasil itu sudah membentuk usaha kelompok yang nantinya akan dijalankan bersama,”jelasnya.

Meli menjelaskan, emak-emak ini akan terus melakukan perawatan sampai tanaman tersebut sudah cukup umur atau siap untuk ditanam di lokasi yang sudah ditentukan. Bahkan selain merawat, anggota kelompoknya juga akan ikut serta dalam melakukan penanaman yang rencananya akan di gelar dalam waktu dekat ini.

“Selain melakukan pembibitan, kami juga siap ikut terlibat dalam proses penanaman pohon dan semoga apa yang kami tanam nanti bisa tumbuh besar sebagai benteng alami. Sehingga laju abrasi di Pandeglang bisa berkurang,”imbuhnya.

Selengkapnya

Admin Kwari

Freelancer Wartawan di Salah satu Kota yang berada di Negara Indonesia Tercinta, Memiliki Hobby Seperti Halnya Orang-orang sukses, Membaca Buku dan Selalu Ingin Tahu dan Berbagi Informasi yang layak di konsumsi untuk publik
Back to top button